19 Februari, 2009
Lupus
Menjelang ujian akhir sekolah mengenah atas, jerawat bermunculan di wajah Tiara Savitri. Tak hanya itu, ia sering terserang panas tinggi disertai bercak-bercak merah. Rambutnya rontok dan timbul rasa nyeri di persendian. Berbagai keluhan fisik itu membuatnya harus dirawat di rumah sakit selama berbulan-bulan.
Tiara dinyatakan positif terserang penyakit lupus. Selama belasan tahun ia harus berjuang melawan penyakit autoimun yang menyerang jaringan dan organ-organ tubuhnya.
Efek samping pengobatan yang dijalani antara lain pembengkakan organ tubuh sehingga bobot Tiara meningkat drastis. Wajahnya pun membengkak atau dikenal sebagai moon face. Bila kondisinya membaik, dosis obat yang dikonsumsi diturunkan.
Meski harus secara rutin berobat, Tiara tetap memiliki semangat hidup tinggi. Setelah membina rumah tangga, ia sempat keguguran tiga kali sehingga akhirnya dikaruniai seorang anak lelaki. “Saya juga sempat mengalami bocor ginjal,” tuturnya.
Kini sudah sekitar 10 tahun ia hidup tanpa obat-obatan lupus. Tiara yang saat ini genap berusia 40 tahun mengabdikan hidupnya untuk menyosialisasikan tentang lupus dan mendampingi mereka yang terkena itu.
Kekebalan tubuh
Lupus merupakan penyakit autoimun yang telah tersebar luas dan dapat menyebabkan sistem imunitas tubuh berbalik menyerang jaringan dan organ tubuh kita sendiri.
”Beberapa organ tubuh yang bisa terkena adalah ginjal, jantung, paru-paru, otak, darah, atau kulit.” kata Prof Zubairi Djoerban dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Sistem imunitas tubuh biasanya melindungi tubuh tubuh kita dari virus, bakteri, dan jaringan dari luar lainnya. Dalam kondisi autoimun seperti lupus, sistem imunitas tubuh ini kehilangan kemampuan membedakan mana substansi dari luar dan yang merupakan jaringan dan sel itu sendiri. ”Akibatnya, sistem imunitas ini malah membuat antibodi yang menyerang sel sehat dalam tubuh,” ujarnya.
Secara global, diperkirakan terdapat 5 juta orang dengan lupus. Di Amerika Serikat, terdapat 1,2 juta orang yang terkena lupus. Adapun di Indonesia, jumlah kasus lupus yang tercatat mencapai 8.693 orang hidup dengan lupus (odapus) atau meningkat dua kali dibandingkan dengan tahun 2004. Jumlah ini diyakini adalah puncak gunung es karena banyak odapus tidak terdiagnosis.
Menurut suatu survei, 9 dari 10 odapus adalah perempuan. Lupus terdapat dalam dua sampai tiga kasus lebih banyak pada rasa Afrika, Asia, Hispanik dan Amerika asli. Lupus terdeteksi lebih banyak pada masa produktif yaitu usia 15-44 tahun.
Sejauh ini, hanya 10 persen dari odapus yang memiliki saudara dekat (orangtua atau saudara) yang juga terkena atau mungkin terserang lupus. Hanya sekitar 5 persen dari bayi yang dilahirkan oleh odapus kemungkinan akan terkena penyakit ini.
Lupus tak menular, langka, bersifat seperti kanker. Belum diketahui secara pasti penyebab lupus. Namun, para peneliti meyakini faktor genetik meningkatkan resiko terkena lupus. Faktor lingkungan juga bisa memicu lupus diantaranya infeksi, obat-obatan, sinar ultra violet, bahan kimia, stress dan hormon.
Sejauh ini ada beberapa tipe lupus. Meski tampak serupa, tiap tipe lupus punya perbedaan gejala dan pengobatan. Menurut situs Mayoclinic, system lupus erythemotosus dapat menyerang beberapa bagian tubuh termasuk kulit, paru-paru, ginjal dan darah. Adapun discoid lupus erythematosus hanya menyerang kulit.
Tipe lain adalah drug induced lupus erythematosus yang terjadi setelah penderita mengonsumsi obat. Gejala lupus hilang begitu penderita memakai obat penyebab lupus. Sementara itu, nenonatal lupus menyerang bayi baru lahir.
Berbeda
Lupus dikenal sebagai penyakit dengan seribu wajah sehigga menyulitkan proses diagnosis. Tidak ada dua kasus lupus yang serupa. Hal tersebut disebabkan organ tubuh yang diserang antibodi dalam tubuh bisa beragam dan itu juga menimbulkan manifestasi klinis berbeda.
Sinyal dan gejala berkembang perlahan atau kadang aku, bisa sementara atau permanen, tergantung dari organ tubuh mana yang diserang. Gejalanya dapat tersamar, bahkan bisa masuk masa remisi hingga mencapai beberapa tahun sebelum terdiagnosis.
Beberapa gejala yang dijumpai adalah sakit pada sendi, demam, sendi bengkak, lelah berkepanjangan, ruam pada kulit, anemia, dan gangguan ginjal. Sejumlah gejala lain adalah sakit di dada saat tarik napas dalam, ruam berbentuk kupu-kupu melintang pada pipi dan hidung, sensitif pada matahari atau sinar, rambut rontok, jari jadi putih atau biru saat dingin, stroke dan sariawan.
Lupus bisa menyebabkan trombosit jadi rendah, sakit kepala, stroke, dan keguguran. Penyakit autoimun ini juga bisa menyebabkan gangguan pembuluh darah kecil. “Lupus mengganggu mekanisme pembekuan darah, darah mudah membeku yang menyebabkan stroke,” ujarnya.
“Lupus sulit didiagnosis. Bila perempuan muda sakit dan tidak juga sembuh meski bolak-balik berobat ke dokter, ia patut di duga kena lupus,” kata Zubairi. Sebagai contoh, penderita didiagnosis demam berdarah karena trombositnya rendah dan ada bercak merah, tetapi tak juga pulih.
Pengobatan
Pada mayoritas odapus, pengobatan yang efektif dapat meminimalkan gejala, mengurangi inflamasi, serta menjaga fungsi tubuh secara normal. Pendekatan pengobatan berdasar pada kebutuhan spesifik serta gejala pada tiap orang karena gejala dan karakteristik lupus sangat beragam pada tiap individu.
Oleh karena itu, evaluasi dan kontrol medis menyeluruh dan berkelanjutan penting untuk memastikan ketepatan iagnosis dan pengobatan. “Terapi yang diberikan tergantung dari organ mana yang terkena dan tingkat keparahannya,” kata Zubairi.
Pada umumnya, obat yang diberikan termasuk obat nonsteroidal antiinflammatory, kortikosteroid, acetaminophen, antimalaria dan immunomodulating. “Pada era 1980-an, tingkat kematian penderita lupus tinggi. Kini angka kematiannya di banwah 10 persen total kasus,” ujarnya.
Oleh Evy Rachmawati
Sumber: Harian Kompas, Jumat, 13 Februari 2009 Hal 14
Posted 17 Februari 2009
Cegah Kanker Serviks dengan Vaksinasi
Kanker menyerang bukan hanya kaum pria, tetapi juga perempuan. Salah satu jenis kanker yang tinggi prevalensinya pada kaum perempuan adalah kanker leher rahim.
Kanker serviks adalah tumor ganas yang menyerang leher rahim. Disebut tumor ganas karena sel-sel kanker ini dapat menyebar ke organ lain di luar organ asalnya dan menyebabkan kerusakan organ lain sehingga dapat menimbulkan kematian. Begitu menyeramkannya risiko yang timbul dari kanker ini, maka pencegahan terhadap penyakit ini harus dilakukan.
Dr Irene Christ Susanto, Fr Arzt, menyebutkan bahwa menurut WHO, kanker serviks merupakan penyebab utama kematian pada perempuan. Setiap menit terdapat satu kasus kanker serviks baru dan setiap dua menit. terjadi kematian akibat kanker serviks. Kasus kanker serviks paling banyak terdapat di Asia Tengah dan Selatan, sedangkan Asia Tenggara menempati posisi kedua di dunia.
Faktor penyebab kanker leher rahim adalah infeksi virus HPV (Human Papilloma Virus) yang bersifat onkogenik (menyebabkan kanker)
Ada berbagai macam tipe HPV, tetapi HPV dengan tipe 16 dan 18 secara bersama menjadi penyebab utama kanker serviks.
Meskipun penyebaran HPV demikian luas, hanya sedikit orang yang mengetahui telah terinfeksi karena umumnya jarang menimbulkan gejala yang dapat dikenali.
Umumnya perempuan yang terinfeksi oleh HPV mengalami infeksi tersebut sesaat setelah aktif secara seksual pada usia antara 20-30 tahun, maka perkembangan ke arah kanker serviks umumnya terjadi di dalam periode waktu 10 hingga 20 tahun. Meskipun demikian ada pula beberapa kasus dimana pra kanker berubah menjadi kanker hanya dalam waktu 1 hingga 2 tahun.
Penularan utama HPV memang melalui hubungan seksual, tetapi ada beberapa cara penularan lain, seperti penggunaan bersama alat-alat pribadi terutama yang telah terkontaminasi, seperti pakaian dalam, penggunaan alat-alat kedokteran yang tidak steril dan lain-lain.
Siapa saja yang berpotensi terkena kanker serviks? Semua perempuan berpotensi terkena kanker serviks. Tetapi ada beberapa faktor risiko lain, seperti perempuan yang menikah di usia muda (dikaitkan dengan usia pertama kali saat berhubungan seksual), kehamilan yang sering, merokok, penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang dan penyakit menular seksual.
Karena semua perempuan terancampenyakit ini, maka usaha pencegahan harus dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit ini.
Konsep pencegahan kanker seviks merupakan upaya mendeteksi kanker sedini mungkin, yaitu pada fase pra kanker. Semakin dini ditemukan sel kanker serviks, maka semakin besar kemungkinan untuk berkembangnya penyakit ini.
Fase pra kanker biasanya timbul tanpa gejala. Karena itu konsep pencegahan kanker serviks adalah dengan melakukan pemeriksaan pada semua perempuan yang beresiko tanpa perlu menunggu gejala apa pun.
Bila penderita sudah menunjukkan gejala seperti keputihan yang berbau, atau pendarahan saat melakukan hubungan seksual, mengindikasikan kanker serviks yang sudah masuk stadium lanjut.
Serviks normal Ca Serviks
Tentu saja tidak semua kasus keputihan atau perdarahan merupakan gejala kanker saerviks, namun yang penting bagi semua perempuan adalah menyadari dan mewaspadai bahwa kedua gejala tersebut tidak dapat dianggap ringan dan tidak boleh dicoba diobati sendiri tanpa pernah melakukan pemeriksaan terdahulu. Penyebab keputihan dapat saja infeksi bakteri, jamur ataupun virus sedangkan perdarahan selain dapat pada kondisi infeksi juga dapat disebabkan oleh gangguan keseimbangan hormon dalam tubuh.
Pemeriksaan terhadap adanya virus HPV dapat dilakukan dengan pap smear dan IVA (inspeksi visual dengan aplikasi asam asetat). Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan secara rutin setahun sekali oleh perempuan yang aktif secara seksual.
Prof M. Farid Aziz, SpOg (K) Spesialis Obstetri Ginekologi, Konsultan Onkologi, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia menjelaskan, ”Kanker serviks adalah salah satu penyakit kanker yang dapat dicegah. Namun, lebih dari 70% penderita datang memeriksakan diri dalam stadium lanjut sehingga banyak menyebabkan kematian karena terlambat ditemukan dan diobati. Dihimbau pada para perempuan untuk melakukan pencegahan dini. Deteksi dini dengan tes pap smear yang dipraktekan di negara maju menunjukkan hasil yang memuaskan dengan penurunan angka kematian karena kanker serviks lebih dari separuhnya.”
Ada cara lain yang digunakan untuk menghindari virus ini menginfeksi tubuh adalah dengan melakukan vaksinasi HPV. Pemberian vaksin ini sebaiknya dimulai ketika berusia muda, yaitu sebelum melakukan hubungan seksual, karena semakin cepat pemberian vaksin, maka semakin efektif mencegah HPV dalam tubuh.
Vaksinasi yang dilakukan pada usia muda akan memacu tubuh membentuk antibodi terhadap sel-sel kanker, sehingga kemungkinan untuk terinfeksi lebih kecil.
Menurut Prof Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, Sp.PD, K_AI, FACP, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, senior ahli Allergi Imunology dan AIDS Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, mengatakan, menurut Ikatan Dokter Anak, usia 10 tahun merupakan usia yang sesuai untuk pemberian vaksin ini. Namun, pemberian pada usia yang lebih lanjut pun masih berguna, hanya keefektivitasannya berkurang. Sampai batas usia perempuan 55 tahun pun vaksin ini masih bisa digunakan.
Samsuridjal pun menambahkan, ”Tidak seperti beberapa virus lain, jika seorang perempuan terinfeksi virus HPV, bukan berarti perempuan tersebut akan memiliki kekebalan terhadap virus ini. Dia tetap beresiko untuk mendapatkan infeksi berulang dari tipe HPV yang sama atau berbeda, dan tetap beresiko terkena kanker serviks. Vaksin kanker serviks bekerja dengan meningkatkan kekebalan tubuh untuk dapat melindungi dari infeksi atau re-infeksi HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks.”
Vaksinasi terhadap HPV dilakukan dalam tiga tahap dosis pemberian, yaitu tahap pertama dilakukan pada bulan ke-0, tahap kedua dilakukan pada bulan 1 dan tahap ketiga dilakukan pada bulan ke-6. Contohnya, apabila vaksinasi pertama dilakukan pada bulan januari 2009, maka vaksinasi kedua dilaksanakan pada bulan Februari 2009, dan vaksinasi ketiga dilakukan pada bulan Juli 2009.
Penerapan pola hidup yang sehat memang sangat dianjurkan untuk mencegah penyakit menyerang tubuh. Khusus untuk kanker serviks, Anda bisa melakukan penerapan pola hidup sehat dan tidak berganti-ganti pasangan, serta melakukan pemeriksaan secara rutin apabila Anda telah aktif secara seksual dan sebaiknya sedini mungkin melakukan vaksinasi HPV, bukan hanya untuk Anda, tetapi juga anak perempuan, saudara perempuan, dan teman perempuan Anda.
Sumber: Harian Kompas, Minggu, 25 Januari 2009, hal 10
Sumber Gambar: http://www.bilkent.edu.tr/~bilheal/aykonu/ay2008/mart08/humanpapilloma.htm akses 17 Februari 2009
Posted 17 Februari 2009
Masturbasi Tingkatkan Resiko Kanker
Kutipan dari koran, semoga bermnafaat :)
Masturbasi Tingkatkan Resiko Kanker
Banyak pria menyalurkan hasrat seksualnya dengan masturbasi. Namun, sebuah studi menyebutkan, para pria yang aktif secara seksual pada usia 20-30 tahun, khususnya jika sering masturbasi, beresiko terkena kanker prostate pada kemudian hari.
Menurut Pusat Pengendalian Pencegahan Penyakit (CDC), kanker prostat merupakan penyebab kematian karena kanker nomor dua pada pria di Amerika Serikat setelah kanker paru-paru. Sekitar 30.000 penderita meninggal tiap tahun. Beberapa faktor resiko lain kanker prostat antara lain genetik dan kelainan hormon.
Studi yang dilakukan Universitas Nottingham itu melihat praktik seksual pada lebih dari 431 pria yang didiagnosis terkena kankker prostat sebelum berusia 60 tahun dbandingkan dengan 400 pria yang tidak terkena kanker prostat.
diantara penderita kanker prostat, 34 persen sering masturbasi saat usia 20-an tahun dibandingkan dengan 24 persen pada kelompok pengontrol. Hasil studi dimuat dalam The British Journal of Urology, baru-baru ini.
Studi itu juga menunjukkan, aktivitas seksual secara rutin pada pria usia 40-an tahun memiliki efek kecil. Adapun semua aktivitas seksual para pria usia 50-an tahun, terutama masturbasi, meski level kecil bisa memberi perlindungan dari penyakit itu.
“Hal ini disebabkan pelepasan selama beraktivitas seksual bisa mengurangi risiko berkembangnya kanker pada wilayah prostat,“ kata Polyxeni Dimitropoulou yang memimpin studi itu. Akan tetapi, hal itu perlu studi lebih lanjut.
“Hormon berperan kunci dalam kanker prostat. Karena itu, terapi untuk mengurangi hormon pemicu sel kanker biasa diberikan kepada pria,” kata Dimitropoulou. Dorongan seksual mengatur kadar hormon pria, karena itu hasrat seksual tinggi mempengaruhi risiko kanker prostat.
Selain itu, 59 persen dari para pria pada dua kelompok itu berhubungan intim atau masturbasi sebanyak lebih dari 12 kali dalam sebulan saat berusia 20 tahun. Angka ini menurun dengan bertambahnya usia, yaitu 48 persen saat berusia 30-an tahun, 28 persen saat mereka 40-an dan 13 persen ketika usia 50-an tahun.
Sebanyak 39 persen dari kelompok pria dengan kanker prostat punya enam pasang atau lebih dibandingkan 31 persen pada kelompok pembanding.
Sumber: Harian Kompas, Kamis, 28 Januari, hal 13
Posted 17 Februari 2009
13 Februari, 2009
atas nama cinta
Saat anda membaca judul artikel ini gambar apa yang muncul di benak anda? Saya yakin yang muncul pastilah gambar, memori, atau film tentang kekerasan fisik yang dilakukan oleh orangtua terhadap anak. Bisa jadi memori ini muncul karena anda pernah membaca, mendengar, melihat, atau mengalami sendiri bentuk kekerasan fisik ini. Atau mungkin yang muncul adalah gambar mental tentang kekerasan seksual pada anak.
Bagaimana reaksi anda bila melihat anak yang babak belur di(h)ajar orangtuanya atau yang mengalami pelecehan seksual?
Pastilah sangat sedih, kecewa, atau bahkan marah sekali. Bisa juga anda merasa begitu iba terhadap nasib si anak.
Nah, dalam artikel ini saya tidak akan membahas mengenai bentuk kekerasan seperti yang saya jelaskan di atas. Bentuk kekerasan di atas adalah yang tampak oleh mata. Ada bentuk kekerasan lain, yang justru jauh lebih kejam dan sangat-sangat negatif terhadap perkembangan diri anak, yang tidak tampak oleh mata.
Berbeda dengan luka fisik yang secara otomatis akan sembuh, walau mungkin akan meninggalkan bekas, luka (batin) akibat bentuk kekerasan ini tidak akan bisa mengering dan sembuh. Luka ini akan selalu terbawa menyertai hidup anak hingga ia dewasa, tua, dan meninggal, kecuali bila ia menyadarinya dan segera dilakukan intervensi untuk menyembuhkan luka ini.
Yang lebih menyedihkan lagi, orangtua yang tidak menyadari hal ini, sering menoreh luka baru di atas luka lama yang belum sembuh. Bisa dibayangkan betapa sakitnya.
Nah, apa sih bentuk kekerasan pada anak yang tidak tampak oleh mata?
Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut saya ingin menjelaskan mengapa saya menulis artikel ini. Ceritanya begini. Saya banyak melakukan terapi. Umumnya yang saya terapi adalah orang dewasa dengan berbagai masalah. Dari sekian banyak klien yang saya tangani, saat saya membimbing pikiran klien untuk mencari dan menemukan akar masalah mereka, dengan teknik terapi tertentu, lebih dari 95% masalah selalu berawal di masa kecil mereka, yaitu umumnya pada usia sebelum 7 tahun. Ada juga yang berawal di antara usia 7 – 10 tahun. Masalah yang paling sering saya jumpai adalah kekerasan emosi.
Nah, terjawab sudah pertanyaan di atas. Kekerasan pada anak yang dilakukan oleh orangtua, yang tidak tampak oleh mata, adalah kekerasan emosi.
Kekerasan emosi didefinisikan sebagai segala sesuatu, yang dilakukan oleh orangtua, orang tua, termasuk sekolah, dan lingkungan, yang merusak harga diri atau citra diri anak.
Apa saja contohnya? Wah banyak sekali. Antara lain membiarkan anak kesepian, tidak ada kedekatan emosional, tidak memberikan anak sentuhan fisik, mengabaikan anak, menolak anak, mendiamkan anak, tidak berkomunikasi dengan anak, tidak mengijinkan anak mengungkapkan emosi yang ia rasakan, membuat anak merasa bersalah, memarahi anak dengan keras untuk hal-hal sepele, menyebut anak dengan sebutan “anak bodoh” atau “goblok”, atau tidak segera membantu saat anak diejek (bully).
Bentuk lain kekerasan emosi terhadap anak adalah saat orangtua menuntut anak menjadi anak yang manis dan sempurna menurut standar orangtua. Orangtua tipe ini beralasan bahwa mereka melakukannya karena demi kebaikan anak. Orangtua ini yang paling sering menggunakan kata “Jangan” dan “Tidak boleh” dan biasanya sangat menuntut (demanding). Mereka ingin anak bisa melakukan sempurna seperti yang mereka inginkan.
Tuntutan yang seringkali tidak masuk akal, karena tidak sesuai dengan usia anak, atau melebihi kemampuan anak untuk memenuhinya, membuat anak menjadi cemas dan akhirnya menutup diri.
Orangtua, yang biasanya memaksa anak berkembang menurut kecepatan yang tidak masuk akal, demi memuaskan ambisi dan nafsu pribadi, beralasan bahwa semua ini dilakukan demi kebaikan dan masa depan anak. Orangtua beralasan bahwa bila anak tidak di(h)ajar sejak dini, dengan berbagai les atau pelajaran, maka anak akan tertinggal dan akan sulit bersaing di masa depan.
Benarkah demikian?
Kekerasan emosi yang tejadi pada anak saat ini terjadi secara intens dan sistematis terutama di sekolah. Kurikulum pendidikan yang begitu berat, proses pembelajaran yang tidak membelajarkan dan tidak berpihak pada anak, tuntutan untuk perform, baik yang diminta oleh sekolah maupun oleh orangtua, atas nama cinta dan masa depan anak, membuat emosi anak kerdil dan akhirnya berhenti berkembang.
Seorang klien, sebut saja Bu Reni, marah besar saat ia merasa sekolah tempat putrinya menuntut ilmu tidak bisa mengajar seperti yang ia harapkan. Bu Reni tanpa banyak bicara langsung memutuskan untuk memindahkan anaknya ke sekolah lain yang ia rasa bagus.
Bagaimana hasilnya? Malah tambah parah. Di sekolah baru ini putrinya merasa semakin berat dan tersiksa. Begitu banyak PR yang harus dikerjakan dan setiap hari ada ulangan. Padahal putri Bu Reni baru kelas 4 SD.
Apa yang membuat Bu Reni marah besar dan memutuskan memindahkan anaknya ke sekolah lain?
Ternyata Bu Reni merasa malu karena putrinya kalah fasih berbahasa Inggris dibandingkan dengan anak temannya. Di sini tampak sekali bahwa keputusan yang ia buat untuk memindahkan putri lebih didasarkan pada gengsi semata dan bukan dengan pertimbangan demi kebaikan putrinya.
Saat ini Bu Reni pusing dan stress karena harus membantu dan menemani putrinya belajar setiap hari. Bu Reni merasa putrinya merampok waktu senggangnya. Tekanan yang dialami oleh Bu Reni akhirnya berimbas kepada putrinya juga.
Satu kasus lagi adalah seorang Ibu yang marah sekali dan berkata bahwa anaknya sangat bodoh karena tidak bisa menguasai bahasa dan tulisan Mandarin padahal sudah dileskan kepada guru yang sangat terkenal.
Saat saya tanya berapa usia anak Ibu ini saya mendapat jawaban yang sungguh mengagetkan dan memprihatinkan. Ternyata anak Ibu ini baru berusia 3 (tiga) tahun. Ini yang bodoh dan goblok apakah anaknya atau Ibunya ya?
Anak usia 3 tahun tidak butuh pelajaran Mandarin. Anak butuh bermain dan bermain. Mengapa? Karena dengan bermain anak akan berkembang. Anak butuh kasih sayang, perhatian, dan dukungan orangtua.
Sudah saatnya kita sebagai orangtua berani berkata jujur pada diri sendiri, “Apakah yang saya lakukan ini sungguh-sungguh demi anak ataukah sekedar demi memuaskan ego atau gengsi saya? Apakah yang saya lakukan ini benar-benar suatu kebaikan ataukah kekerasan yang dengan mengatasnamakan cinta?”
Yang lebih penting lagi adalah beranikah orangtua bertanya kepada diri sendiri, "Jika posisinya dibalik, saya menjadi anak dan anak menjadi saya, maukah saya diperlakukan seperti ini?"
sumber: http://www.adiwgunawan.com/awg.php?co=p5&mode=detil&ID=180
akses 12 Februari 2009
GIVE AND HAPPY
Kebahagiaan Diperoleh Dari Memberi
ini ada sebuah cerita menginspirasi yang diperoleh dari seorang teman. (copas dari email yang masuk, jadi sumbernya tidak bisa disembutkan...maklum...email berantai)Kisah ini bercerita tentang seorang wanita cantik bergaun mahal yang mengeluh kepada psikiaternya bahwa dia merasa seluruh hidupnya hampa tak berarti.
Maka si psikiater memanggil seorang wanita tua penyapu lantai dan berkata kepada si wanita kaya," Saya akan menyuruh Mary di sini untuk menceritakan kepada anda bagaimana dia menemukan kebahagiaan. Saya ingin anda mendengarnya. "
Si wanita tua meletakkan gagang sapunya dan duduk di kursi dan menceritakan kisahnya:"OK, suamiku meninggal akibat malaria dan tiga bulan kemudian anak tunggalku tewas akibat kecelakaan. Aku tidak punya siapa-siapa. aku kehilangan segalanya. Aku tidak bisa tidur, tidak bisa makan, aku tidak pernah tersenyum kepada siapapun, bahkan aku berpikir untuk mengakhiri hidupku. Sampai suatu sore seekor anak kucing mengikutiku pulang. Sejenak aku merasa kasihan melihatnya.
Cuaca dingin di luar, jadi aku memutuskan membiarkan anak kucing itu masuk ke rumah. Aku memberikannya susu dan dia minum sampai habis. Lalu si anak kucing itu bermanja-manja di kakiku dan untuk pertama kalinya aku tersenyum.
Sesaat kemudian aku berpikir jikalau membantu seekor anak kucing saja bisa membuat aku tersenyum, maka mungkin melakukan sesuatu bagi orang lain akan membuatku bahagia. Maka di kemudian hari aku membawa beberapa biskuit untuk diberikan kepada tetangga yang terbaring sakit di tempat tidur.
Tiap hari aku mencoba melakukan sesuatu yang baik kepada setiap orang. Hal itu membuat aku bahagia tatkala melihat orang lain bahagia. Hari ini, aku tak tahu apa ada orang yang bisa tidur dan makan lebih baik dariku. Aku telah menemukan kebahagiaan dengan memberi."
Ketika si wanita kaya mendengarkan hal itu, menangislah dia. Dia memiliki segala sesuatu yang bisa dibeli dengan uang namun dia kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.
semoga bermanfaat....